Feeds RSS

Selasa, 09 Agustus 2011

cerpen nih....


Hari ke Empat
Karya Novita Sari Fasihah

Ketika matahari ada di atas kepala, segera aku melangkahkan kaki ke jalan Panglima Polem delapan belas. Mungkin ini bukan kala pertama aku melangkahkan kaki ke sana, tapi sudah ke seribu kali.
Saat memasuki gerbang terlihat sesosok lelaki gagah yang sudah tak muda lagi umurnya. Ku sapa beliau dengan senyuman ceria, “Selamat siang Babe.”
Ya, babe adalah panggilan kami untuknya. Aku tak seberapa paham kenapa beliau dipanggil Babe. Aku hanya mengikuti teman-teman yang lain memanggilnya babe. Dengan wajahnya yang ceria,  serta kumisnya yang tebal membalas sapaanku, “Siang! wah panas sekali ya?” ucap Babe.
Ku lirik jam tanganku, jam sudah menunjukan pukul 12.10 WIB. Itu bertanda bahwa sebentar lagi ujian akan di mulai dan aku harus sampai di ruang ujian sebelum jam 12.30 WIB.
Ujian ini adalah ujian yang akan menentukan hidup matinya aku. Dulu perasaan angkuh yang ada di dalam diri ini membuatku meremehkan ujian  semester. Penyesalan selalu datang belakangan. Nilaiku banyak yang di tulis dengan tinta merah sehingga mengharuskanku mengulang kembali apa yang di ujikan.
Kembali lagi ke cerita...
“Ia be. Saya duluan ke kelas ya, kan mau ujian mid  semerter.”Jawabku manis, tak ingin merusak suasana hati babe yang sedang ceria dengan rasa takut yang aku alami karena akan mengikuti ujian ini.
 “Ia, silahkan neng gelis”, ujar Babe dengan ramah.
Babe pun mempersilahkanku masuk ke dalam sekolah. Aku mulai meninggalkan babe di tempat kerjanya itu. Aku berharap semoga beliau bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.
Ku berjalan setapak demi setapak menuju ruangan  tempatku melaksanakan ujian. Tapi sebelum aku masuk, aku sempatkan diri untuk melangkah menuju absen jari yang berada di depan ruang guru. Walaupun jauh dari ruang ujian, aku harus tetap melaksanakannya. Ku taruh jariku perlahan, tak berapa lama terdengar suara, “Terimakasih”.
Suara itu berasal dari mesin absen yang menandakan bahwa jariku berhasil diidentifikasi dan tercatat hadir. Aku tak perlu mengantri lagi untuk mengabsen. Ku berbalik badan ternyata banyak siswa yang menungguku untuk absen juga. Aku tak menghiraukan hal itu dan langsung melangkahkan kaki ke ruang ujian.
Sesampainya di depan ruang ujian, aku melihat teman-temanku duduk membaca buku pelajaran yang akan di ujikan nanti. Bukan hanya membaca buku, beberapa dari mereka ada yang mendiskusikan soal yang ada di LKS. Bahkan ada yang hanya mengobrol sambil menggenggam BB kesanyangan mereka. Di situ juga aku melihat banyak kakak kelas yang sama seperti teman-temanku.
Seolah  tak ingin tertinggal, dengan segera aku silangkan kedua kakiku  untuk duduk di samping mereka dan membaca buku yang dibawa. Seperti pepatah buku adalah jendela dunia.Di dalam tas ada beberapa buku pelajaran yang aku bawa. Awalnya aku binggung ingin membaca yang mana, tapi aku segera memutuskan untuk membaca buku ekonomi karena itu pelajaran yang akan di ujikan pertama kali.Ku buka lembaran demi lembaran yang ada, demi mengulang kembali apa yang ku pelajari tadi malam. Berangsur-angsur  tempat ini yang tadi lapang menjadi sempit karena datangnya peserta ujian yang lain untuk mengikuti ujian pula.
Bunyi alaram kebakaran berbunyi. Menurut opiniku, memang bel sekolahku sedikit unik. Karena suaranya seperti alaram kebakaran yang ada di pemadam kebakaran.
Kami yang tadinya duduk-duduk, segera berdiri dan baris. Satu persatu guru melintas di sampng kami. Mereka adalah guru yang akan mengawas selama ujian ini berlangsung. Di dalam hati hanya bisa berharap ruanganku di jaga oleh guru yang baik.
Kepanikan aku rasakan saat aku mencari kartu peserta ujian milikku. Kartu ini bukan sembarang kartu. Kartu yang bisa membuatku masuk ke dalam ruangan ujian ini layaknya tiket yang harus di berikan kepada petugas kereta saat hendak menaiki kereta.kartu itu tak ku temukan di bagian tas yang biasa aku menyimpannya.
“Ada apa Novi, dari tadi gelisah sekali?”tanya salah seorang temanku yang menyadari ada yang aneh dalam diriku.
“Kartu ujianku hilang, bagaimana ini?”jawabku dengan wajah panik.
“Sini aku bantu cari”Kalimat pertolongan keluar dari mulutnya. Ia mulai membantu mencari di dalam tasku. Hanya beberapa saat ia berhasil menemukannya. Bagikan menghirup udara pegunungan yang sejuk ketika  kartu ujianku tersimpan rapih di dalam kotak pensil.
Tak berapa lama doaku terkabul, seorang wanita berjilbab  yang terlihat baik berdiri di depan baris kami. Beliau langsung memberi inruksi kepada kami. “Ayo cepat semuanya berbaris yang rapih. Dan tas di taruh di depan kelas, yang di bawa hanyalah alat tulis!”
Kami mengikuti semua intruksinya, dan mulai memasuki kelas.Jantungku berdetak seribu kali lebih cepat, karena sudah memasuki ruang ujian. Ku ambil alat tulis dan ku taruh tasku di depan kelas. Aku segera duduk di bangku dua puluh satu.
 Aku duduk berdampingan dengan kakak kelasku. Wajahnya melukiskan bahwa ia tidak takut menghadapi ujian ini. Ia sangat berbeda denganku yang dari awal merasa tegang karena ujian ini. Di benakku hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama dia siap ujian karena sudah belajar. Yang kedua dia hanya menyerahkan diri pada Tuhan. Benar yang mana aku tak tahu, yang memahami hati seseorang hanyalah dirinya sendiri dan Tuhan.
Sebelum ujian, kami sekelas di anjurkan untuk berdoa. Selama berdoa, pengawas akan membagikan lembar soal dan jawaban. Rasanya badan menjadi gemetar saat lembar jawaban dan soal jatuh  di meja ujianku. Perlahan ku buka soal dan mulai membacanya.
Ku panjatkan doa  lagi kepada yang Maha Kuasa sebelum memulainya. Aku merasa dalam ujian hanya diri sendiri dan Tuhanlah yang bisa menolong.Perlahan ku gerakan pena yang aku genggam. Aku goreskan tinta di atas kertas putih itu. Ku tulis jawaban yang pasti.,jawaban yang berasal dari bekalku tadi malam.
Aku yakin aku bisa. Tadi malam sudah ku kerahkan semua tenanga untuk menghapal. Apalagi tadi pagi aku mengulang kembali apa yang aku pelajari.
Suasana ujian tenang sekali, ketenangan  itu terusik dengan beberapa peserta ujian yang hendak menyontek, bahkan ada beberapa dari mereka membuka buku. Sedikit terganggu konsentrasiku untuk menjawab pertanyaan ini karena hal itu. Setan mulai berbisik kepadaku, untuk aku menyontek. Aku tidak akan menyontek!. Masih terekam jelas saat pertama kali aku melihat buku, aku ketahuan oleh guru SMPku dulu. Tak bisa terbayangkan perasaanku saat itu, rasa malu, takut bercampur menjadi satu. Dari situ aku trauma untuk melihat buku saat ujian.
“Cepat bawa ke depan semua contekan yang kalian bawa!”Suara gertakan seorang guru yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang ujian kami.
Tak ada yang menhiraukan. Aku bingung, aku tak mau guruku ini menjadi naik darah tapi aku memang tidak memegang contekan. Apa yang harus aku lakukan?
Dengan tegas ia mengucapkan kalimat itu sekali lagi, setelah ucapannya yang pertama tak di hiraukan. Matanya yang tajam menatap ke arah kami membuat badanku lemas, tanganku langsung gemetar serta jantungku rasanya mau copot. Walaupun aku tidak menyimpan contekan tapi aku merasa seperti itu.  Seumur hidup aku jarang sekali di bentak seperti itu. Sedikit gertakan saja mentalku langsung down.
Satu persatu, peserta ujian yang membawa contekan harus ikhlas menyerahkan contekan itu kepada guru tersebut. Aku bangga kepada guruku satu ini. Tak ada guru yang mau keliling, mengawasi ujian dari luar seperti iniselain beliau. Beliau adalah guru Bahasa Indonesiaku, ibu Sularni.
Ternyata dari tadi bu Larni mengawasi kami dari jendela yang tidak kami sadari terbuka gordengnya. Hal itu memungkinkan semua orang dapat melihat apa yang di kerjakan dalam ruangan selama ujian berlangsung. Beliau juga cerita ada di ruangan lain, contekan itu berasal dari copian LKS yang di perkecil. Mendengar itu aku terheran, karena aku belum tahu kalau ada LKS yang bisa di perkecil.
Banyak  contekan yang di bawa oleh peserta ke dalam ruangan ujian, hingga bertumpuk di tangan Bu Larni. Setelah merasa cukup, beliau pun keluar dengan tumpukan contekan di tangannya.
Sebagian peserta yang ketahuan menyontek mukanya memjadi pucat pasi. Sementara aku berusaha mengembalikan tekanan mentalku untuk melanjutkan mengisi lembar jawaban ini. Mengapa aku harus takut, akukan tidak menyontek apa lagi melihat buku.
Hari ke empat ujianku ini adalah hari yang berkesan bagiku selama ujian, karena dengan niat yang tidak menyonek pasti membawa berkah bagiku tidak terlibat kasus dengan Ibu Sularni.

-----Selesai.-----

0 komentar:

Poskan Komentar